Kia Ora!

Setelah mati suri sekian lama, akhirnya………… AKU KEMBALI!!!

Tapii.. titik koordinat sudah bergeser, dari Jakarta ke negara di ujung selatan. We’re now in New Zealand!

Pindah  mulu sis? Iyes. Abis sini anaknya bosenan… Nggak deng. Kan ceritanya untuk cari kehidupan yang lebih baik. Keputusan untuk pindah juga nggak datang gitu aja kok,  tapi lewat pertimbangan yang panjang kali lebar kali tinggi. Hamdalah selama di Indonesia hidupnya tidak berada di garis kemiskinan. Bisa tidur nyaman di rumah sendiri (walaupun bayar KPR ngos-ngosan banget ya kakak), punya mobil, makan enak dan anak-anak pun sekolah di sekolah nasional plus. Cukup?

Oh, ternyata tidak.

Dimulai dari beberapa tahun terakhir, suami mulai merasa geraknya mentok. For those who know him, tau lah kalau dia nggak ngemeng doang. Dia berdedikasi tinggi sama kerjaannya. Dia punya mimpi yang luar biasa. Tapi makin hari dia makin gelisah sama kondisi yang…. yaaaaa gitu deh. I’m not gonna share the detail to anyone. But long story short, one thing led to another.  Fisik pun ikutan tergerus. Keluhan sakit ina-ini-itu mulai berdatangan -yang anehnya, tiap periksa ke dokter, jawabannya gak ada yang serius. Ini serius apa enggak sih.

Akhirnya, demi kepentingan keluarga, keputusan pun bulat. Semua aset dijual.
Rumah, jual!
Mobil, jual!
Harga diri, tidak dijual!
Walaupun sempet terjadi drama ‘nggak boleh resign’, dia tetep resign. Bismillah, kita hijrah. Bye bye Jakarta!

Sekarang sudah beberapa bulan tinggal di Auckland New Zealand. Semua serba baru. Lingkungan baru. Kebiasaan baru. Harus adaptasi lagi. Pastinya, mau hidup di mana aja, ada plus ada minusnya. Harus diakui, some things are better back there in Jakarta. But we just couldn’t be happier to be here. Keluhan-keluhan sakit yang dirasain kemarin, di sini lenyap bagai disihir. Alhamdulillah. Bapak ibu happy, anak-anak happy. No need to complain.

So let us say… wish us luck for our new adventure here in the corner of the world!

MpW8n5KgS+eQPE0xzeHquw

by the shufu herself

Advertisements

Bangkok Journey: Siam Niramit Dinner

Sebelumnya izinkan saya mengucapkan: Woooww Siam Niramit baguuuuus…..!

Buat yang pengen tau Siam Niramit itu apa dan bagemana, silakan googling dulu. Intinya, ini pertunjukan teater kolosal kebanggaan Thailand. Yaa kalo di Indonesia mirip2 sendratari Ramayana yang di pelataran candi Prambanan. Babak pertama show digelar outdoor di pelataran. Awalnya rada ngenes nontonnya.. Penonton disuguhi tarian muda mudi, tapi yang nari mukanya penuh kebosanan hahahaha.. Tapi akhirnya lucuuuu. Ada tarian riang gembira dan banyak penonton yang ditarik-tarikin suruh ikut nari. Sukiii!

Kelar babak pertama, penonton dihalau masuk ke dalam gedung teater untuk nonton ‘the real show’.  Huwowwwww…. aku terpesonaaa! Maklum ya sini anaknya belom pernah nonton Broadway. Jadi liat di panggung tiba-tiba bisa ada sungai, air terjun sama gajah lewat aja udah seneng banget! *gampangan*

Tiketnya ada dua jenis, tiket show only dan tiket show + dinner, dan kita dibeliin Mr. Krit si driver baik hati tiket including dinner, yang harganya cuma beda tipis sama tiket show only. Jauh lebih murah juga dibanding harga tiket resminya. Entah gimana caranya, Read More

Thai Tonight!

Orang yang punya hobi makan memang paling nggak bisa diajakin ngomongin makanan tepat sebelum tidur. Cuma gara-gara tengah malem ngobrolin kecap ikan, trus langsung resah. Pengen buru-buru makan Tom Yum Soup…

Besoknya hujan seharian. Cuacanya dingiiiin.. Bahkan cuaca memberi dukungan buat makan Tom Yum! Supaya pakdosen nggak ribut mempertanyakan mana dagingnya, jadi mari kita hadirkan juga Thai Beef Basil, dan untuk minum ada Hot Lemongrass Tea. Selamat makan di Pattaya ala-ala!

img_1915

Read More

Bangkok Journey: Thai Green Curry

Ambisi hidup menyicip green curry di tempat asalnya tercapai sudah.

Ini menu yang selalu dipesan tiap kali mamam-mamam di restoran Thai. Yang di Lan Na Thai itu enaknya bukan kepalang. Bikin sendiri? Oh, pernah juga. *sombong*  Enak banget juga *sombong lagi*.  Nih, intip sini nih kalo gak caya..  Tapi tapi tapi akukan belom pernah makan di kampungnya sana! Jadi salah satu niat beli tiket Jakarta-Bangkok pp adalah untuk makan ini. Cetek amat yak, hahaha….

Di hari pertama jelajah Bangkok belum ada kesempatan. Pas hari kedua, tancap. Tanpa mikir, langsung tunjuk  ini di kedai makanan halal di MBK Food Court. Sebenernya siiih mata dan hati lebih ngiler liat penampakan green curry di kios seberangnya. Assslik, mouthwatering banget! Tapi ditolak sama kokinya, hahahahahaha…… Gara2 liat kepala ijk dibungkus, dia langsung nyuruh-nyuruh ke kios seberangnya. Bener-bener digandeng dan dianterin sampe kios seberang :)) Kop khun kha bapaaak!

Setelah pesenan dianter, langsung alis naik sebelah. Kok minimalis? Tapi kan katanya gak boleh judge by its cover yah. Ya uwes, disendok lah. Seruputan pertama…. wow, enak! Kayak gini ternyata rasa aslinya.  Santannya lumayan kental, cukup gurih, tapi agak keasinan.  (Ada apa sih Thailand, kok masakanmu ternyata asin-asin?)  And yes, rada ‘sepi’ karena isinya cuma potongan ayam kecil-kecil dan sedikit, dengan kuah melimpah. Rasa gurih kuahnya berujung di rasa pedas, yang makin lama makin kuat.

Dan selanjutnya…
Aku…
Kepedesannnnnn!!!

Astaga Gustiii… tobat pedesnya. Munculnya justru aftertaste, jadi gak ilang-ilang. Padahal ini udah pesen yang mild. Karena saya emang gak kuat pedes, sempet menyangka diri sendiri yang cemen. Sama pedes aja takut. Tapi setelah temen-temen yang lain pada nyoba dan mereka SEMUA bilang pedassss… ya berarti bukan salahkuuu! Tapi gak apa-apa, tak menyesal. Cicip Thai Green Curry otentik : checked. 🙂

Masih to be continued

Bangkok Journey: Local Culinaire

Preambule: walaupun ini cerita tahun lalu dan udah basi, tapi aku mau cerita!! :p

Alkisah, setelah kehebohan nyaris tiap malam selama berbulan-bulan (diiringi tatapan lelah dari suami masing-masing), akhirnya ada 6 mamak-mamak yang berhasil melarikan diri ke Bangkok! Harusnya bertujuh.. tapi yang satu gagal berangkat, dan buntutnya terpaksa dia harus sabar dijejelin foto 6 temennya lagi gila-gilaan 😀

85f91fbb-e1b0-440a-8aa9-22d3add076fe_zpsrub6ngyd

Kalo mau ditulis, keriaan di Bangkok gak selesai 10 postingan. Tapi berhubung ini foodblog, jadi yang ditulis disini cuma perjalanan perut ya. Dan sebenernya, sini anaknya lebih doyan makan daripada belanja, jadi tujuan utama ke Bangkok emang mau makan 😀

Read More

Sundanese-Padangnese-Japanese

Kan critanya fusion. (Trus bingung. Ini masuk kategori masakan apa?)

Cuman gara-gara lagi seneng bikin donburi, karena abis beli mangkok donburi baru yang porsinya kurang pas untuk sekali makan. Tiap hari bikin donburi. Gyuudon, Oyakodon, Katsudon, Chirashi-don. Dan ketika udah mulai keabisan gaya, datanglah GEPUK-DON!

…yang mana ini sesungguhnya ada empal gepuk disuwir, dan disiram sambal lado kayak mau bikin dendeng batokok. Jadi kuberikan nama:

GEPUK LADO IJO DONBURI

Bahan-bahan:

Nasi putih, sesuai porsi perut masing-masing
Empal gepuk, bikin sendiri boleh, atau Ny. Yong to the rescue!
Cabe ijo, rajang
Bawang merah, rajang
Garam
Merica

Cara bikinnya:

– Empal gepuk digoreng. Tiris, serap lagi minyak-nya pake kitchen towel paper.
– Panaskan minyak sedikit. Tumis cabe ijo + bawang merah sebentar. Kasih garam + merica sedikit (tapi gak usah juga gak apa2, empal-nya kan udah asin).
– Taruh nasi putih di mangkok. Atur empal diatasnya. Siram pakai cabe ijo tumis.
– Enjoy!

 

 

 

Ifu Mie

Tiap bikin capcay, adonannya selalu dilebihin. Soalnya bisa disimpen dikulkas (asal jangan kelamaan) dan gampang dikutak-katik. Bisa dijadiin sapo, kuah cah daging, endesbre endesbre.

Tapi paling suka dibikin iniiii….

IFU MIE

Cara bikinnya cuma mie telor basah digoreng di minyak panas dan banyak sampai kering. Biar bentuknya gak buyar-buyar, mie basah-nya ditaruh di tirisan yang ukurannya agak besar dan bentuknya cekung. Trus tirisan-nya dicelup ke minyak. Buat anak-anak, pake tirisan yang ukurannya lebih kecil, jadi ifu mie ni kayak di bakmi GM.

Untuk kuahnya, pake kuah capcay (resepnya disini yaa…) dengan isi terserah mau diisi apa, tapi kuahnya dibikin banyaaak. Mie keringnya ditaruh di piring, lantas disiram capcay. And the best way to enjoy the dish adalah ketika mie-nya udah mulai lembek kena kuah 😀

 

 

 

 

2015

Selamat tahun baru semuanya… Sudah ganti tahun lagi. Tahun kemarin apa kadabraaaa?

Kalo dibilang tahun 2014 terasa bagai terbang, YA NGGAK JUGAK!!! 2014 itu…..melelahkaaaaan! Persis tahun dimulai, proyek bangun rumah juga dikebut. Tadinya kami pakai jasa kontraktor. Tapi pengerjaannya luamaaaaaa dan dana kesedot parah. Jadilah semua (iya, SE-MU-A) kami ambil alih sendiri. Percuma lah pakdosen kuliah arsitektur sampe ubanan dan sekarang jadi dosen arsitektur, kalo bikin rumah sendiri diserahin ke orang lain. Capeknya ya gak usah ditanya, tapi hepiii sekali sama hasil akhirnya. Super yeayyy! Dan menjelang lebaran, kami resmi pindah rumah 🙂

Ya gara-gara urusan mandor juga acara masak-memasak (dan apdet-mengapdet blog) jadi banyak terabaikan. Coba-coba tempat makan baru juga gak bisa sering2, secara duitnya mending dipake buat beli semen aja kakaaak. Dan sekarang setelah pindah, update blog juga ternyata tak lancar. Karena… area-nya gak tercover aja dulu oleh nyaris semua provider internet! 😦 Ini masih Jakarta looooh… kok nasibnya bagai di hutan belantara.

Oke, mari sekarang bicara apa yang ingin dicapai. Target dapur tahun ini adalah mastering (atau paling enggak nyoba bikin deh) masakan-masakan ini:
1. Singgang Ayam Sumpu. Lha kan kita bininya orang Padang.
2. Ayam Kodok. Sungguh menggentarkan. Bagemana kalo pas lagi dimatengin ayamnya meledakk? 😦
3. Japanese Curry. Yes, from the scratch.
4. Lapis Legit/Masuba. Terambisius!

Sudah, segitu aja. Itupun adalah resolusi dapur dari tahun 2014. Yang mana adalah resolusi dari tahun 2013. Yang juga adalah resolusi dari… #rawisuwis. Mudah-mudahan tahun ini tercapai. Oh, dan bikin birthday cake sendiri buat ulang tahun anak-anak.

Baiklah. Sekali lagi selamat tahun baru. Walaupun 2015 start-nya kok ya berat banget.. tertatih-tatih gini. Tapi mudah-mudahan makin maju makin enteng. Semoga tahun 2015 kita sehat, di dapur banyak makanan enak, dan di kantong banyak rejeki. Amin.

Rosemary Roast Chicken

Sering ngiler duluan kalo baca resep daging apapun di-roast. Ngebayangin wanginya pasti merebak kemana-mana. Kayak resep yang ini nih…

Rosemary, bawang putih sama lemon. Dan pas mateng, wanginya bikin lapeeeer..

Tapi… seperti biasa. Tiap bikin panggang-panggangan, anak-suami gak semangat. Mereka baru nggragas kalo dagingnya direndang, diopor, digoreng, dibalado… Hih!!!

Anyway, ini resepnya layak tampil kok. Gampang banget pula. Paling cuma perlu menyesuaikan antara besarnya ayam, waktu pemanggangan sama sifat oven masing-masing. Enak dimakan bareng nasi atau grilled potatoes, plus gravy/mushroom sauce. Happy roasting! 🙂

Read More

Crustless Spinach Smoked Beef Quiche

Nyuruh Ken-kun makan sayur is my DAILY problem. Ever since we moved back to Jakarta. Berbentuk sayur nyata-nyata jelas gak bakalan dimakan. Semua harus diumpet-umpetin atau dirubah wujudnya. Itupun lebih sering ketauan (dan gak dimakan) daripada lolos masuk perutnya. Mau marah, tapi kata mamah dulu saya kecilnya juga persis kayak Ken-kun. Ini yang namanya kualat kali ya? Ampuni aku ibuuuu…!!

Salah satu cara merubah wujud sayur ya dibikin quiche gini.  Diumpetin, ditibanin tumpukan smoked beef dan keju. Serius deh, gak kerasa lagi makan bayam. Yum yum healthy yum!

Apakah yang ini Ken-kun doyan? Yaaah lumayan lah. At least masuknya lebih mudah daripada masukin sayur bayem jagung. -___-

Anyway, here’s how to make the super easy yummy crustless one 🙂

Read More